Mengapa Surplus Telur Bisa Sebabkan Harga Anjlok
Surplus telur atau kelebihan produksi telur di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor yang kompleks. Menurunnya harga telur di pasaran tentunya karena adanya supply and demand. Ketika permintaan tinggi sementara pasokan tebatas maka harga telur biasanya naik. Sebaliknya, kondisi saat ini adalah produksi berlimpah tetapi penyerapan pasar tidak seimbang sehingga harga bisa turun bahkan anjlok ditingkat peternak.
Mengapa Surplus Bikin Harga Anjlok?
Di tahun 2026, produksi telur nasional dinilai akan mencapai 7,3 juta ton sedangkan kebutuhan nasional antara 6 juta ton saja. Sementara itu serapan telur untuk ekspor juga hanya sekitar 517 ton. Hal ini menyebabkan surplus sebesar 13 % dari kebutuhan nasional (Detik, 2026)
Akibat tidak seimbangnya supply dan kebutuhan pasar, banyak peternak akhirnya menjual telur dengan harga murah agar stok tetap bergerak. Jika hal ini terjadi secara luas, harga pasar ikut terdorong turun. Semakin banyak peternak yang menjual di bawah harga ideal, semakin besar tekanan terhadap harga telur di tingkat produsen.
Realita dan Aksi Peternak
Meskipun harga acuan produsen (HAP) mencapai Rp. 26.500,- per kilogram, realitanya tidak demikian. Efek domino dari peternak yang menjual telur murah menyebabkan harga mencapai Rp.22.500,- per kilogram yang mana dibawah HAP. Harga murah dari satu wilayah bisa memengaruhi harga di wilayah lain, terutama jika pasokan dari daerah sentra produksi masuk ke pasar yang sama. Akibatnya, harga telur tidak hanya turun di satu titik tetapi bisa menyebar ke banyak daerah. Inilah yang membuat surplus produksi menjadi persoalan serius bagi stabilitas harga telur.
Terus turunnya harga telur memicu aksi protes dari peternak. Dikutip dari Kontan TV memberitakan bahwa ratusan peternak ayam petelur di Blitar membagikan sekitar 1 juta butir telur gratis sebagai aksi protes. Hal ini karena harga telur dirasa sudah tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa masalah harga telur bukan soal angka tetapi juga menyangkut keberlanjutan usaha peternak nasional.
Baca Juga: Program Ayam Merah Putih Inisiasi Kementan Dorong Ketahanan Pangan
Upaya Hadapi Surplus Telur
Permasalahan surplus telur membutuhkan penanganan dari banyak pihak. Peternak, pemerintah, distributor, industri makanan, dan pelaku retail perlu saling terhubung agar pasokan dapat terserap lebih baik.
Beberapa langkah dapat digunakan untuk menekan surplus dan menstabilkan harga. Misalnya dengan mendorong divesifikasi produk telur. Telur segar bisa dijual dengan tambahan proses pengolahan misalnya menjadi telur cair, telur pasteurisasi, telur siap makan, atau produk bernilai tambah lainnya. Pemerintah juga perlu mengoptimalkan program pangan untuk menyerap produksi peternak. Selain itu, pasar ekspor juga mampu menjadi jawaban untuk memperluas daya serap produksi telur segar.
(tabita-marcomm)