Industri Telur dan Perannya dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional
Telur ayam menjadi salah satu komoditas pangan paling strategis di Indonesia. Hal ini disebabkan telur adalah makanan dengan protein kompleks namun harganya terjangkau dan mudah didapatkan. Berkat itulah banyak peternak yang menggalakkan produksi ayam petelur untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Data Produksi Telur Nasional
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional yang dikutip dalam publikasi pemerintah, produksi telur ayam pada 2025 mencapai sekitar 6,31 juta ton. Sementara itu, estimasi produksi telur ayam pada 2026 naik menjadi sekitar 6,5 hingga 6,9 juta ton, melebihi kebutuhan konsumsi nasional yang diperkirakan sekitar 6,22 juta ton. Artinya, secara nasional Indonesia memiliki pasokan telur yang lebih dari cukup.
Peran Telur dalam Ketahanan Pangan Nasional
Berdasarkan data dari Bapanas, masyarakat Indonesia pada tahun 2025 mengonsumsi telur ayam sebanyak 2,362 kg per kapita per minggu. Hal ini sudah jauh lebih banyak dari tahun 2016 yang hanya 1,983 kg. Peningkatan konsumsi menjadi petanda bahwa telur telah menjadi bagian penting gaya hidup masyarakat.
Kontribusi besar telur dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat Indonesia didukung oleh hasil produksi besar. Telur memiliki posisi strategis karena mudah didistribusikan, mudah diolah, dan digunakan oleh banyak sektor. Mulai dari rumah tangga, sekolah, program pemenuhan gizi, UMKM kuliner, bakery, katering, hotel, restoran, hingga industri makanan skala besar, semuanya membutuhkan pasokan telur yang stabil.
Baca Juga: Surplus Produksi Telur Terjadi Begini Respon Pemerintah
Surplus Sebagai Tantangan Peternak Lokal
Surplus produksi telur yang terlihat membanggakan ternyata menyimpan kekhawatiran bagi para peternak lokal. Produksi yang membludak apabila tidak didukung daya serap pasar yang besar mengakibatkan harga telur turun drastis.
Seperti yang dilansir dari CNN Indonesia, menyatakan bahwa harga telur pada Mei 2026 sudah turun drastis dari Rp. 26.500 per kg menjadi Rp. 21.000 per kg. Hal ini juga diperburuk dengan harga pakan ayam yang naik sebesar 400 rupiah. Adapun menurut Yudianto, program MBG yang diharapkan juga belum menjadi penyerap produksi telur yang maksimal.
Meskipun demikian, kelebihan pasokan telur di tingkat nasional juga dapat menjadi peluang strategis di tengah krisis pasokan telur yang melanda sejumlah negara. Melonjaknya harga telur di seluruh dunia, yang dijuluki “eggflation” dipicu oleh berbagai faktor seperti wabah flu burung, kenaikan harga pakan ternak, hingga masalah rantai pasokan. Dalam hal ini, Indonesia yang memiliki kelebihan produksi memiliki peluang untuk memperluas pasar ekspor, asalkan permintaan domestik terjamin dan para peternak di dalam negeri terlindungi dari ketidakstabilan harga.
(tabita-marcomm)