Teknik Pasteurisasi Mampu Bunuh Bakteri Telur, Cek Faktanya!
Sebagian besar orang mengetahui telur segar untuk bahan masakan. Namun, tidak semua telur segar memiliki kualitas yang baik dan aman dikonsumsi. Menjawab kegelisahan tersebut terciptalah telur pasteurisasi sebagai standar baru dalam keamanan pangan.
Apa Itu Telur Pasteurisasi?
Pasteurisasi adalah teknik memanaskan makanan atau minuman untuk menghilangkan bakteri patogen. Teknik ini berfungsi untuk mematikan bakteri yang ada dengan proses pemanasan pada suhu tertentu dan rentang waktu yang telah diatur. Namun, pemanasan pasteurisasi berbeda dengan proses merebus telur biasa. Proses pasteurisasi tidak menyebabkan perubahan tekstur telur dengan menggunakan proses pemanasan pada suhu 56-62°C atau 134-144°F.
Teknik Pasteurisasi Bunuh Bakteri
Teknik pasteurisasi terbukti sangat efektif dalam menjaga keamanan pangan dengan membunuh lebih dari 99% bakteri standar pada telur dalam waktu satu menit pada suhu 134°F. Selain bakteri umum, proses ini mampu membasmi seluruh bakteri coliform pada putih telur dalam waktu 1,6 menit.
Namun, bagian kuning telur lebih sulit dipasteurisasi karena viskositas atau kekentalan yang tinggi. Kuning telur memerlukan suhu lebih panas sekitar 142°F selama 2 menit untuk menghancurkan seluruh coliform dan mayoritas bakteri lainnya. Keberadaan zat bakterisida alami dalam putih telur juga membuat pembersihan mikroorganisme di bagian tersebut lebih mudah dibandingkan pada kuning telur
Baca Juga:Begini Cara Peternakan Membuat Telur Omega
Telur Pasteurisasi vs Telur Biasa
Telur segar biasa dan telur pasteurisasi memiliki manfaat yang berbeda dalam hal penggunaannya. Kebanyakan orang menggunakan telur biasa untuk keperluan rumah tangga dan usaha kecil karena mudah didapat, harganya terjangkau, dan dapat digunakan dalam berbagai macam hidangan. Namun, dari sudut pandang keamanan pangan, telur ini tetap harus ditangani dan dimasak dengan benar.
Di sisi lain, telur pasteurisasi telah dipanaskan dengan cara yang terkontrol untuk mengurangi risiko bakteri tanpa mengubah nilai gizinya. Hal ini membuatnya lebih aman untuk digunakan dalam makanan yang tidak dipanaskan hingga matang, seperti saus, dressing, dan makanan penutup.