eggflation telur ayam defisit

Fenomena Eggflation: Penyebab dan Dampaknya

  • Agrosari Farm

Banyak negara mengalami eggflation. Eggflation merupakan peristiwa dimana harga telur naik signifikan akibat tekanan pasokan, biaya produksi, dan permintaan pasar. Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu negara. Dalam beberapa tahun terakhir, eggflation menjadi perhatian global karena berdampak langsung pada stabilitas pangan.

Data Eggflation yang Terjadi di Dunia

Fenomena eggflation paling menonjol terjadi di Amerika Serikat. Dikutip Reuters (2025) harga telur AS melonjak tajam akibat adanya wabah Highly Pathogenic Avian Influenza yang sebabkan kematian jutaan ayam petelur. Lonjakan hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya dengan rata-rata harga mencapai US 4,95 per lusin pada Januari 2025.

Pereira dari Euro News (2025) menjelaskan kenaikan harga telur juga terjadi di Uni Eropa. Harga telur naik 6.7% pada Maret 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan harga telur di Eropa juga disebabkan oleh dampak flu burung dan ketatnya pasokan telur.

Penyebab Eggflation Dunia

Salah satu penyebab utama eggflation di dunia adalah wabah flu burung yang menyerang peternakan ayam petelur. Wabah ini membuat banyak ayam mati atau harus dimusnahkan untuk mencegah penyebaran penyakit, sehingga populasi ayam petelur menurun secara signifikan. Ketika jumlah ayam petelur berkurang, produksi telur otomatis ikut turun dan pasokan di pasar menjadi terbatas. 

Di sisi lain, peternak juga menghadapi kenaikan biaya pakan, energi, transportasi, dan operasional yang membuat biaya produksi semakin tinggi. Kondisi ini semakin diperberat oleh permintaan telur yang tetap tinggi, baik dari rumah tangga maupun industri makanan. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan: produksi rendah, biaya naik, sementara kebutuhan pasar tetap besar. Situasi inilah yang mendorong harga telur melonjak dan memicu fenomena eggflation di berbagai negara. 

 

Baca Juga: Mengapa Surplus Telur Bisa Sebabkan Harga Anjlok

 

Posisi Indonesia di Dunia

Di tengah dunia yang sedang kekurangan pasokan telur, Indonesia justru mengalami surplus telur. Seperti data dari UGM menjelaskan bahwa produksi telur nasional tahun 2025 diproyeksikan mencapai 6,5 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi sekitar 6,22 juta ton.

Kondisi surplus ini membuat tantangan Indonesia berbeda dari negara seperti Amerika Serikat atau Prancis. Jika negara lain menghadapi kenaikan harga akibat pasokan berkurang, Indonesia justru perlu mengelola kelebihan produksi agar harga tidak jatuh terlalu rendah di tingkat peternak. 

Di sisi lain, surplus telur juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor. Dikutip dari Antara, pemerintah menyebut Indonesia telah mencapai swasembada daging ayam dan telur, dengan surplus masing-masing sekitar 0,12 juta ton daging ayam dan 0,17 juta ton telur. 

Hingga Maret 2026, Indonesia tercatat telah mengekspor 545 ton produk unggas senilai Rp18,2 miliar ke beberapa negara tujuan seperti Singapura, Jepang, dan Timor-Leste. Pemerintah juga menyebut pasar ekspor produk unggas Indonesia telah menjangkau negara lain seperti Oman, Uni Emirat Arab, Qatar, Papua Nugini, dan Myanmar. Capaian ini menunjukkan bahwa sektor perunggasan nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memiliki ruang untuk masuk ke pasar luar negeri. Agrosari siap menjawab kebutuhan konsumen dengan hadirkan telur segar berkualitas.

(tabita-marcomm)